Latest Entries »

Tuesday, February 23, 2010

Cara memberikan obat oral pada anjing






Berikut ini adalah cara pemberian obat secara oral pada anjing :

1. Pegang kepala anjing dengan tangan kiri jika anda adalah pengguna tangan kanan. Jika anjing anda merupakan jenis anjing hidung panjang maka gunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk menahan rahang atas. Jika hidung anjing anda pendek maka rahang atas dipegang seperti pada kucing (gambar 1).

2. Tarik kebelakang bagian kepala yang dipegang. Otot Rahang anjing lebih kuat daripada kucing sehingga mulut tidak bisa membuka sendiri seperti pada kucing. (Gambar 2).

3. Dengan lembut dan pelan lipat bibir atas anjing sehingga jika anjing mencoba menggigit maka dia akan menggigit bibirnya dan bukan tangan anda(Gambar 3).

4. Pegang pil atau kapsul pada tangan kanan anda diantara ibu jari dan jari telunjuk. Anda dapat menahan mulut agar tetap terbuka dengan menekan rahang bawah menggunakan jari tengah anda pada gigi seri anjing (jangan pada gigi taring). Jatuhkan pil atau kapsul dibelakang lidah sejauh mungkin anda bisa (Gambar 4).

5. Pemberian obat cair secara oral dapat menggunakan spuit yang dilepas jarumnya. cara pemberianya sebagai berikut ; letakan spuit pada samping mulut antara pipi dan gigi kemudian dorong dengan cepat cairan pada bagian tersebut setelah itu tutup mulut anjing. Untuk menghindari masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan jangan pernah memiringkan kepala anjing (gambar 5).


Catatan.
- Jika anjing anda agresif sebaiknya konsultasi dengan dokter hewan anda sebelum memberikan obat oral sendiri.

Cara memberikan obat oral pada kucing






Berikut ini adalah cara pemberian obat secara oral pada kucing :

1. Pegang kepala kucing dengan tangan kiri jika anda adalah pengguna tangan kanan. Kepala kucing yang disebut lengkung zygomatic dapat dipegang dengan mudah serta kuat dan tidak menyebabkan kucing anda gelisah (gambar 1).

2. Tarik kebelakang bagian kepala yang dipegang maka kucing dengan sendirinya akan membuka mulutnya (Gambar 2).

3. Pegang pil atau kapsul pada tangan kanan anda diantara ibu jari dan jari telunjuk. Anda dapat menahan mulut agar tetap terbuka dengan menekan rahang bawah menggunakan jari manis anda pada gigi seri kucing (jangan pada gigi taring). Jatuhkan pil atau kapsul dibelakang lidah sejauh mungkin anda bisa (Gambar 3).

4. Jika kucing tidak mau membuka mulut pada saat anda menarik kebelakang kepala yang dipegang, maka gunakan jari tengah tangan kiri anda untuk membuka mulut kucing dengan cara menekan jari tengah pada gigi seri kucing (jangan pada gigi taring) (Gambar 4).

5. Pemberian obat cair secara oral dapat menggunakan spuit yang dilepas jarumnya. cara pemberianya sebagai berikut ; letakan spuit pada samping mulut antara pipi dan gigi kemudian dorong dengan cepat cairan pada bagian tersebut setelah itu tutup mulut kucing dan angkat kepalanya selama beberapa detik setelah pemberian cairan (gambar 5).

Monday, February 22, 2010

Koksidiosis (Isospora) pada hewan kecil


Koksidia adalah mikroskopik parasit yang hidup disaluran pencernaan dari anjing dan kucing. Penyakit ini seringkali ditemukan, tetapi sangat jarang menyebabkan gejala pada hewan dewasa. Pada anak anjing dan kucing gejala yang sering adalah diare (Barchas, 2010). Penyebab penyakit ini adalah protozoa dari Genus Isospora : Isospora rivolta, Isospora canis dan Isospora felis. Spesies tersebut diatas diketahui dapat menginfeksi anjing dan kucing (Subronto, 2006).

Patogenesis
Anjing atau kucing yang terinfeksi melepaskan ookista koksidia di dalam feses. Pada kondisi yang lembab dan hangat, ookista bersporulasi menjadi stadium infektif dalam 3-5 hari.
Anjing terinfeksi jika memakan pakan atau minum yang terkontaminasi tanah atau feses yang mengandung ookista infektif . Didalam usus, ookista ruptur dan melepaskan sporozoit, yang kemudian akan melakukan penetrasi ke dalam sel epitel usus, kemudian berkembang biak di sana, dan akhirnya merusak sel hospes.
Mekanisme yang lain, yaitu koksidia dapat ditularkan secara vertikal. Anak anjing dapat terinfeksi koksidia sebelum dilahirkan jika induk terinfeksi koksidia semasa masih menjadi anak anjing dan menjadi carrier (Vet-Klinik.Com, 2008).

Gejala Klinis
  • Diare merupakan gejala paling umum terjadi, frekuensi diare bervariasi. Pada beberapa kasus diare bisa diikuti dengan adanya darah.
  • Jika tidak segera dilakukan pengobatan terhadap diare maka hewan akan mengalami dehidrasi, anemia, kurus, lemah dan akhirnya mati.
  • Anjing atau kucing dewasa yang terinfeksi biasanya asimptomatis, tapi dapat menularkan penyakit pada hewan lain dan menyebarkan ookista infektif ke dalam lingkungan melalui kontaminasi feses.


Diagnosa
Diagnosa koksidiosis adalah dengan mengamati gejala klinis dan identifikasi ookista dalam sampel feses pada mikroskop dengan pembesaran 400x.
Diagnosa banding koksidiosis adalah infeksi-infeksi enterik akibat virus (Parvo Virus) dan penyakit-penyakit intestinal akibat parasit yang lain (roundworm/Ascariasis) (Barchas, 2010).


Pengobatan
  • Pengendalian diare, mencegah dehidrasi dan anemia, serta mengeliminasi organisme infektif.
  • Pada kasus akut, penggantian cairan sangat penting (Terapi Cairan).
  • Sulfadimethoxine 55 mg/kg PO pada hari pertama kemudian 27.5 mg/kg satu kali sehari selama 9 hari (Veterinary Drug Handbook).
  • Sulfadiazine/Trimethoprim 30 mg/kg PO satu kali sehari selama 10 hari (Veterinary Drug Handbook).
Setelah pengobatan pemeriksaan feses harus terus dilakukan untuk memastikan protozoa tidak dalam jumlah yang banyak.

Daftar Pustaka

Barchas., E. 2010. Coccidia (Isospora) In Cats and Dogs. in http://drbarchas.com/coccidia
Anonim. 2008. Koksidiosis pada anjing dan kucing. Vet-Klinik.Com. in http://www.vet-klinik.com/Pets-Animals/Koksidiosis- pada-anjing-dan-kucing.html
Subronto. 2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba pada Anjing dan Kucing. Gadjah Mada University Press. Bulaksumur, Yogyakarta.


Ringworm Pada Sapi


1. Etiologi

Penyebab ringworm pada sapi adalah jamur dermatofit yaitu jamur dari genus Trichophyton dan spesies Trichophyton verrucosum, T. mentagrophytes dan T. megninii . Di negara-negara yang beriklim tropis atau dingin, kejadian ringworm lebih sering, karena dalam bulan-bulan musim dingin, hewan selain kurang menerima sinar matahari secara langsung, juga sering bersama - sama di kandang, sehingga kontak langsung di antara sesama individu lebih banyak terjadi. Penyebaran infeksi dapat terjadi karena kontak langsung dengan hewan atau patahan bulu yang terinfeksi (Al-Ani et al, 2002).

2. Patogenesis

Ringworm hanya dapat tumbuh pada jaringan yang mengandung keratin seperti kulit, rambut dan kuku. Hal ini disebabkan karena ringworm menggunakan keratin sebagai sumber makanan (keratinophilic/keratinofilik). Ringworm menghasilkan enzim seperti asam proteinase, elastase, keratinase dan proteinase lain yang merupakan penyebab keratinolisis/keratinolytic. Ringworm pada sapi lebih banyak diderita oleh hewan muda daripada yang dewasa. Hal ini disebabkan karena pada hewan dewasa telah terbentuk kekebalan. Perubahan klinis dimulai dengan eritema, kemudian diikuti dengan eksudasi, panas setempat, dan terjadinya alopecia. Karena jamur tidak tahan dalam suasana radang, jamur berusaha meluas ke pinggir lesi, hingga akhirnya terbentuk lesi yang berupa lesi yang bulat atau sirkuler berwarna coklat kekuningan, dengan bagian tengahnya mengalami kesembuhan (Chermette et al, 2008).

3. Gejala Klinis

Pada sapi di bagian permukaan kulit dan bulu yang terinfeksi akan ditemukan adanya lesi berbentuk bulatan-bulatan seperti cincin dalam berbagai ukuran dan berwarna keputih-putihan, yang dalam keadaan intensif dapat disertai dengan adanya kerak-kerak peradangan dan kerontokan bulu. Lesi ini dapat ditemukan pula di daerah kepala, leher dan bahu. Pada sapi tidak dijumpai tanda-tanda kegatalan, hewan yang parah tubuhnya sangat kurus dan tidak ada nafsu makan (Al-Ani et al, 2002).

4. Diagnosa

Penyakit ini dapat dikelirukan dengan lesi yang diperlihatkan seperti infeksi bakteri dan dermatitis lainnya, namun dengan adanya bentuk cincin pada derah yang terinfeksi dan tidak adanya tanda-tanda kegatalan dapat memastikan bahwa hewan tersebut menderita penyakit ringworm (Scott, 1988). Untuk mendiagnosa melalui pemeriksaan laboratorium diperlukan sampel kerokan kulit, serpihan kuku, rambut. Kemudian dapat diperiksa dengan pemeriksaan langsung dengan mikroskop atau dengan membuat biakan pada media. Pemeriksaan langsung mikroskop dengan cara membuat preparat native yang diberikan potasium hydroxide (KOH) 10% kemudian diamati dengan mikroskop cahaya dengan pembesaran 100x dan 400x. Pada biakan/kultur media, sampel yang diambil dari hewan suspect ringworm diberikan KOH 20% dan ditumbuhkan pada media Sabouraud Glucose Agar (SGA) yang ditambah chloramphenicol dan cycloheximide untuk menghambat kontaminasi bakteri dan jamur saprofic. Media di inkubasi selama 4 minggu dengan temperatur 28 sampai 30ºC (Ozkanlar et al, 2009).

5. Pengobatan

Meski secara alamiah dapat sembuh sendiri namun pengobatan pada hewan penderita harus dilakukan. Mekanisme secara alamiah untuk menghilangkan infeksi ringworm dapat terjadi akibat berhentinya produksi keratin sebagai akibat dari reaksi peradangan. Terdapat beberapa kelompok obat dengan berbagi cara dapat dipakai untuk menghilangkan ringworm, yaitu obat Iritan bekerja untuk membuat reaksi radang sehingga tidak terjadi infeksi dermatofit, obat keratolitik bekerja untuk menghilangkan ringworm yang hidup pada stratum korneum dan obat fungisidal yang secara langsung merusak dan membunuh ringworm. Pengobatan dapat dilakukan secara sistemik dan topikal (Ahmad, 2005). Secara sistemik dapat diberikan preparat griseofulvin dengan dosis 7,5 - 10 mg/kg secara PO satu kali sehari. Secara topikal menggunakan mikonazol 2 % (Chermette et al, 2008) atau salep yang mengandung Asam benzoat 6 g, asam salisilat 3 g, sulfur 5 g, iodine 4 g and vaseline 100 g (Al-Ani et al, 2002)

6. Pencegahan

Salah satu cara yang efektif untuk pencegahan adalah meningkatkan kebersihan, perbaikan gizi dan tata laksana pemeliharaan. Kandang sapi harus sering dijaga kebersihannya dengan membersihkan secara teratur, sapi diberikan konsentrat, rumput dan vitamin seperlunya (Ahmad, 2005). Vaksinasi dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ringworm. Mekanisme kerja vaksin adalah pengaktifan sel Th1 yang merangsang Cellular Mediated Immunity (CMI) yang ditandai dengan pelepasan cytokines interferon-c (IFN-c), interleukin 12 (IL-12), and IL-2 oleh sel epitel skuamosa yang merupakan sel utama epidermis (Lund and DeBoer, 2008). Vaksinasi adalah pencegahan yang baik pula, namun relatif mahal (Chermette et al, 2008).


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad R Z. 2005. Permasalahan Dan Penanggulangan Ringworm Pada hewan. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Balai Penelitian Veteriner. Bogor. http://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/lokakarya/lkzo05-47.pdf

Al-Ani F. K., F. A. Younes, and O. F. Al-Rawashdeh. 2002. Ringworm Infection in Cattle and Horses in Jordan. Acta Vet. Brno :71: 55-60. http://vfu-www.vfu.cz/acta-vet/vol71/pdf/71_055.pdf

Chermette. R., L. Ferreiro., and J. Guillot. 2008. Dermatophytoses in Animals. Mycopathologia. Springer Science and Business Media B.V. http://www.springerlink.com/content/y43610543658764u/fulltext.pdf

Laven R. 2004. Ringworm. National Animal Disease Information Servive Bulletins. http://www.nadis.org.uk/DiseasesCattle/Ringworm/RINGWO_1.html

Lund. A and D. J. DeBoer. 2008. Immunoprophylaxis of Dermatophytosis in Animals. Mycopathologia. Springer Science and Business Media B.V. http://www.springerlink.com/content/6241w828q4374715/fulltext.

Ozkanlar Y., M. S. Aktas and E. Kirecci. 2009. Mycozoonosis Associated with Ringworm of Calves in Erzurum Province Turkey. Department of Internal Medicine, Faculty of Veterinary Medicine, Atatürk University. Erzurum - TURKEY

Scott, DW. 1988. Large Animal Dermatology. In: Fungal Diseases. W.B. Saunders. http://www.scribd.com/doc/3273436/Fungal-Skin-Disease-large-animal

Sundari D. 2001. Cermin Dunia Kedokteran. Grup PT Kalbe Farma. Jakarta. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/cdk_108_obat_tradisional.pdf

Saturday, June 27, 2009

Ringkasan Penyakit

Daftar Penyakit, Gejala Klinis, Spesimen yang harus diambil dan pengobatan

Penyakit & Penyebabnya Gejala Klinis Penting Spesimen yang harus diambil Pengobatan


Hewan Besar

Penyakit Jembrana (Retrovirus) - Kebengkatan Lgl, superficialis - Serum, dingin - Antibiotika Spektrum Luas
- Keringat berdarah - Dalam formalin 10%
- Diare berdarah
- Demam

MCF (Bovine hervesvirus 3) - Demam Tinggi - Otak, Hati, Ginjal, Limpa - Tidak dapat diobati
- Keluar cairan mukopurulen
- Bau busuk dari hidung & mata
- Erosi mukosa rongga mulut

PMK (Aphthovirus) - Salivasi, pincang - ± 1 gr epithel lepuh lidah, dll - Tidak dapat diobati
- Lepuh-lepuh pada lidah (Sapi) - Serum
- Lepuh pada moncong (Babi)
- Demam
- Lepuh pada ambing (Sapi)

BEF (Rhabdovirus) - Demam - Darah - Ruboransia (stamina)
- Persendian kaki bengkak - Serum Pasangan - Antibiotika Spektrum Luas
- Pincang

BVD/MD (Pestvirus) - Demam - Swab tinja, potongan usus - Antibiotika Spektrum Luas
- Diare berlendir, berdarah, busuk - Darah - Vitamin & Elektrolit
- Erosi selaput lendir mulut - Serum
- Hipersalivasi

Hog Cholera (Pestvirus) - Demam - Limpa, Kelenjar Limfe Tonsil - Tidak dapat diobati
- Anoreksia, lesu - Serum
- Kulit eritema - Otak, Paru2, lien, ren, dll
- Gejala syaraf
- Abortus, mumifikasi fetus

SE (Pasteurella multocida) - Lesu, Hipersalivasi - Preparat Ulas darah - Antibiotika
- Kluar Eksudat bening dari hidung - Darah segar saat demam
- Odema pangkal leher sampai dada - Lien, Lgl, Eksudat, cairan odema
- Suara ngorok - Heart, Lien, Liver, Lung
- Pneumonia

Anthrax (Bacillus anthracis) - Tidak jelas bila akut - Preparat Ulas darah - Antibiotika
- Mati mendadak, keluar darah - Swab dari leleran darah - Serum Kebal
- Demam
- Kolik, Edema daerah leher/Skrotum

Unggas

ND/Tetelo (Paramyxovirus) - Sianosis, Ngorok, sulit bernafas - Ayam utuh - Tidak dapat diobati
- Kluar lendir & gangguan syaraf - Serum
- Tinja hijau keputihan - Otak, Trachea, Lung, Lien
- Kematian tinggi dalam waktu singkat - Proventiculus, caecal tonsil

Gumboro/IBD (Birnavirus) - Lesu, Nafsu makan turun/hilang - Ayam utuh - Tidak dapat diobati
- Daerah sekitar anus kotor - Bursa Fabricious, Liver, Ren

Fowl Cholera (Pasteurella multocida) Bentuk Akut - Ayam utuh - Tidak dapat diobati
- Nafsu makan hilang - Heart Blood, liver
- Diare berwarna putih kehijauan - Lung, Ren, Lien
- Disertai adanya lendir (hidung & mata)
Bentuk Kronis
- Bengkak pada pial, Sinus, sendi Kaki

Marek Disease (Herpesvirus) - Paralise sayap atau kaki - Ayam utuh - Tidak dapat diobati
- Syaraf dari plexus ischiadicus
- Otak, liver, lien, ren

Pullorum Disease (S. pullorum) - Diare pada anak ayam umur 2-3 minggu - Ayam utuh - Antibiotika
- Anoreksia - Liver, Lien, Lung, preparat usus - Preparat Sulfa
- Darah sekitar anus - Heart, Ovarium
- Kotoran berwarna putih seperti kapur

Coccidiosis (Eimeria sp) - Berak darah - Ayam utuh Preparat sulfa
- Pertumbuhan terhambat - Tinja - Furazolidone
- Darah sekitar anus - Usus yang terserang - Pyrimethamin
- Sulfonamide

Anjing

Skabies (Sarcoptes sp) - Rambut rontok (Gatal)
-

Saturday, May 16, 2009

SCABIES

Bagi anda pecinta hewan kesayangan seperti anjing, sudah tidak asing mendengar istilah scabies/kudisan. Penyakit ini tidak akan terjadi jika pemilik hewan bisa memanagement kesehatan hewannya. Jika kebersihan hewan selalu dijaga maka penyakit scabies tidak akan menyerang/menginfeksi hewan anda. Berikut ini merupakan sedikit informasi tentang penyakit scabies ini.
Scabies merupakan penyakit hewan menular yang disebabkan oleh ektoparasit tungau. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai spesies tungau antara lain ; Sarcoptes scabiei, Chorioptes spp., Psoroptes spp., Choriopsoroptes spp., Notoedres spp.
Gejala dan tanda-tanda yang dapat dilihat pada penyakit scabies adalah Hewan sakit akan menggaruk-garuk atau menggesekan tubuhnya sehingga hewan menjadi gelisah. Dapat terjadi luka sehingga akan keluar cairan yang membentuk keropeng-keropeng. Kulit juga menjadi tebal dan bulu disekitar luka akan rontok.
Dampak dari penyakit ini adalah kerusakan bagi penampilan hewan, selain itu juga jika terjadi infeksi sekunder akan menyebabkan kematian.
Seperti dikatakan diatas bahwa kebersihan hewan dan kandang sangat mempengaruhi kejadian penyakit ini. selain itu pencegahan kontak langsung dengan hewan yang menderita scabies sangat penting. Jika hewan anda sudah terinfeksi penyakit ini maka segera ke dokter hewan.

Thursday, February 19, 2009

Kondisi Normal Hewan

Bagi seorang mahasiswa kedokteran hewan, mengetahui keadaan normal hewan merupakan sesuatu kewajiban. Karena untuk mengetahui perubahan (patologi) suatu penyakit terlebih dahulu harus mengetahui keadaan normal dari bagian yang mengalami perubahan. Selain itu refrensi bagi mahasiswa/i kedokteran hewan sangatlah sedikit yang dapat diperoleh. Melihat pentingnya hal ini maka saya mencoba membantu rekan-rekan mahasiswa/i untuk mendapatkan informasi keadaan normal hewan yang saya kutip dari Tilley and Smith. 2000. The-5 Minute Veterinary Consult Ver 2 :

APPENDIX III APPROXIMATE NORMAL RANGES FOR COMMON MEASUREMENTS IN DOGS AND CATS
Dog Cat
Heart rate (bpm) 60–180 140–220
Capillary refill time <> <>
Body temperature 99.5–102° F 100.5–102° F
37.5–39° C 38.1–39° C
Mean arterial pressure (mm Hg) 90–120 100–150
Blood volume (ml/kg) 75–90 47–66
Cardiac output
(ml/kg/min) 100–200 167 ± 39
(L/M2/min) 4.72 ± 1.09
Systemic resistance
(mm Hg/ml/kg/min) 0.64 ± 0.16
(dynes/sec/cm) 2162 ± 458
Mean pulmonary arterial pressure (mm Hg) 14 ± 3
Central venous pressure (cm H2O) 3 ± 4
Pulmonary artery occlusion pressure (mm Hg) 5 ± 2
Urine output 1–2 ml/kg/hr 1–2 ml/kg/hr
Breathing rate (breaths/min) 10–30 24–42
Minute ventilation (ml/kg/min) 170–350 200–350
Oxygen delivery
(ml/kg/min) 29 ± 8
(ml/M2/min) 815 ± 234
Oxygen consumption
(ml/kg/min) 4–11 3–8
(ml/M2/min) 198 ± 53
Arterial Po2 (mm Hg) 85–105 100–115
Arterial So2 > 95 > 95
Arterial Pco2 (mm Hg) 30–44 28–35
Arterial pH 7.36–7.46 7.34–7.43
Bicarbonate (mEq/L) 20–25 17–21
Base deficit (mEq/L) 0 to −4 −1 to −8
Total plasma proteins (g/dl) 6.0–8.0 6.8–8.3
Albumin (g/dl) 2.5–3.5 1.9–3.9
Packed cell volume (%) 37–55 29–48
Hemoglobin (g/dl) 12–18 9–15.1
Sodium (mEq/L) 145–154 151–158
Potassium (mEq/L) 4.1–5.3 3.6–4.9
Chloride (mEq/L) 105–116 113–121
Total CO2 (mEq/L) 16–26 15–21